Kamis, 19 Mei 2016

# Personal Life

PERSPEKTIF MANUSIA TEHADAP MANUSIA LAIN


Perspektif itu apa sih?

Kalo menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sih artinya begini:



perspektif/per·spek·tif/ /pérspéktif/ n 1 cara melukiskan suatu benda pada permukaan yang mendatar sebagaimana yang terlihat oleh mata dengan tiga dimensi (panjang, lebar, dan tingginya); 2 sudut pandang; pandangan;


Yapss perspektif itu gampangnya adalah sudut pandang. Nah, kali ini gue mau bahas tentang perspektif manusia satu terhadap manusia lain. Tulisan ini juga sebenernya dilatar belakangi oleh pengalaman pribadi gue sendiri sebagai manusia dimana gue suka berpendapat bahwa si A seperti ini, si B seperti itu, dan itu semua sepenuhnya dari sudut pandang gue.

Kadang perspektif yang kita ciptakan tak jarang menimbulkan konflik atau perdebatan kecil, contohnya gue ilustrasikan sebagai berikut:

(Disini gue milih semua aktornya cowok yaa, dan pemilihan nama aktor asal acak aja)


Pada suatu hari yang panas menggelora ada 3 cowok yang bernama Seno, Aldo dan Doni lagi nongkrong gilak di depan kampus sambil minum capucino cincau made in mbak rina bohay tralala trilili,  disaat mereka sedang menikmati segarnya capucino cincau yang lezat itu lewatlah seorang cewek di depan mereka bertiga, dan terjadilah percakapan seperti ini:

Aldo: eehh Sen, Don liat tuh ada cewek cakep bener. Gileeeee, udah kayak bidadari turun dari khayangan tau nggak? Sumpaah gilaa cakep amat daah anak siapa tu bocah. Menurut kalian gimana, cakep nggak tuh cewek?

Seno: hah? mana? yang pakek baju ijo itu? Biasaa aja keleus dikampung gue juga yang macem begitu banyakkkkk, muka kek gitu mah pasaran

Doni: menurut gue cakep sih tapi sayang body kurus kering kerontang kagak ada seksi seksinya, jadi menurut gue cakepnya biasa aja

Aldo: eeh kalian kok gitu sih, mbak nya itu juga ciptaan Tuhan tau kok kalian seenaknya aja sih jelek-jelekin kayak gitu. Orang mbak nya cakep gitu malah dikatain muka pasaran dan biasa aja.

Doni: hla kok lu sewot do, kan elu tadi yang nanya pendapat kita-kita

Aldo: yaa iyalaah gue sewot, hla wong mbaknya itu cakep tapi kalian bilang jelek

Seno: udeeh udeehh, don, do, masalah cewek sebijik aja pakek diributin segalaa. aah elaahhhh


Naahh ilustrasinya semacam itu.
Cuma gara-gara embak sebijik lewat di depan 3 cowok bisa jadi perdebatan diantara mereka. Padahal apa yang masing-masing mereka katakan merupakan apa yang ada di pikiran mereka dan menurut sudut pandang mereka juga. Jadi apakah ke 3 dari cowok tersebut salah menilai embak tersebut? Ya enggak dong yaa, kan semua tentang "PERSPEKTIF".

Yang jadi masalah disini disini bukan si Doni salah si Aldo salah atau si Seno yang salah, tapi lebih tepatnya menerima pendapat dari perspektif tersebut.


Menghargai dan menerima pendapat dari orang lain itu masih sulit dilakukan oleh masyarakat sekarang ini, kebanyakan dari mereka lebih mengedepankan ego dari pada logika.

Ego untuk membalas perkataan orang yang tidak sependapat dengan kita, perasaan ingin mengalahkan omongan orang lain, ingin menunjukkan bahwa pendapat kita yang paling benar, dan banyak lainnya sifat ego itu sendiri.

Yang jadi pertanyaan gue, bukannya beda pendapat itu malah asik yaa? Kita bisa tau tentang sudut pandang si A, si B, si C dan lainnya sehingga kita jadi lebih berpikiran luas. Eeeetapiii, kalo udah sifat nggak mau nerima pendapat orang lain yaa mau begimana lagi 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar